Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Kesulitan Biaya, Aktivis “Liberal” Menuntut Pemerintah Belanda

Aktivis "liberal" yang hidupnya berkiling dengan “menjual” dan mengkritik Al-Quran, kehilangan biaya. Ia ingin menuntut pemerintah Belanda yang dulu berjanji menjamin hidupnya

Hidayatullah.com--Pemerintah Belanda harus membiayai pengamanan Ayaan Hirsi Ali sekalipun ia menetap di luar negeri. Demikian tuntutan yang ingin diajukan ke meja hijau oleh mantan anggota parlemen Belanda Ayaan Hirsi Ali yang sejak tahun lalu tinggal di Amerika Serikat.

Mantan politikus ini bersikeras menyatakan Belanda berjanji akan membiayai penjagaan keamanannya. Selama bertahun-tahun Hirsi Ali diancam karena bersikap kritis terhadap Islam dan tidak menyembunyikan pendapatnya itu.

Hirsi Ali mohon diperbolehkan memanggil beberapa saksi ke pengadilan Den Haag untuk membuktikan Belanda berjanji akan menjamin penjagaan keamanannya. Saksi pertama yang akan maju adalah Van den Berg, bekas pegawai Hirsi Ali urusan politik. Setelah itu mantan Menteri Keuangan Gerrit Zalm, orang kepercayaan Hirsi Ali, dan mantan Koordinator pemberantasan terorisme akan dipanggil sebagai saksi.

Setelah mendengarkan pernyataan para saksi Hirsi Ali dan pengacaranya akan memutuskan apakah mereka punya cukup bukti untuk menyeret Belanda ke meja hijau. Menurut jurubicara pengadilan di Den Haag, Elkerbout, prosedur itu memang lumrah.

"Dalam berbagai kasus lebih praktis mendengarkan kesaksian dulu, setelah itu baru mengumpulkan bukti, karena dengan demikian bisa memutuskan ada manfaatnya atau tidak menjadikan ini perkara pengadilan."

Mengkritik Al-Quran

Hidup Hirsi Ali tiba-tiba berobah total setelah ke mana-mana harus memakai jasa pengawal karena aktivitasnya mencari popularitas dengan mengkritik Islam dan “menjual“ Al-Quran.

Sebelumnya, pemerintah Belanda memberikan perlingdungan keamanan penuh dan biaya. Namun belakangan Belanda menolak membayar biaya pengamanan jika ia tinggal di luar negeri.

Hirsi, perempuan pengungsi dari Somalia yang lari menuju Belanda. Di Belanda, Hirsi Ali bahkan pernah diangkat sebagai anggota parlemen partai liberal, VVD. Sejak itu ia mendapat penjagaan polisi secara permanen.

Bertahun-tahun wanita kulit hitam ini sibuk mengumpulkan uang dengan cara berceramah mengecam Islam ke berbagai Negara untuk membayar penjagaan keamanan para pengawalnya yang tak sedikit jumlahnya.

Sejak 2002 sering diancam akan dibunuh karena kecamannya terhadap Islam. Ketika itu ia bekerja di lembaga ilmu pengetahuan partai buruh PvdA.

Hirsi Ali pernah bekerjasama dengan Theo van Gogh, sutradara Belanda membuat film berjudul Submission. Di mana dalam film ini ia menampakan potongan ayat-ayat Al-Quran yang diproyeksikan pada tubuh seorang wanita setengah bugil. Akibat kasus ini, Theo van Gogh dibunuh oleh Mohammed Bouyeri dengan sebilah belati. Si pembunuh menancapkan sepucuk surat pada tubuh korban dan menyampaikan pesan, bahwa nasib yang sama menanti Hirsi Ali. Sejak itu Hirsli mencari perlindungan dan tinggal sementara di Amerika Serikat.

Tapi karena sudah keluar dari wilayah Belanda, pemerintah Belanda tidak mau lagi membayar lagi biaya pengamanannya.

"Yang boleh diharapkan dari pemerintah Belanda adalah melindungi orang-orang yang berada di Belanda. Hal itu berlaku pula bagi para pejabat dan warga Belanda dengan jabatan khusus selama mereka di luar negeri. Kami sudah memberi kelonggaran terhadap nyonya Hirsi Ali ketika ia pindah dari Belanda untuk bekerja di Amerika Serikat, selama itu kami membayar biaya pengamanannya," demikian ujar Menteri Kehakiman Belanda Ernst Hirsch Ballin itu adalah kebijakan yang normal di Belanda.

Mayoritas parlemen Belanda mendukung keputusan menghentikan pembayaran biaya pengamanan Hirsi Ali. [rnwl/hid/www.hidayatullah.com]

Posting Komentar

0 Komentar