Pimpinan Umum Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia mengucapkan istighfar ketika mendengar pemumuman pemerintah atas gelar pahlawan kepada M Natsir
Pernyataan ini disampaikan oleh Pimpinan Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Ustadz Syuhada Bahri dalam acara pembukaan Haflah 'Idul Fithri 1429 H / 2008 M.
"Kita ucapkan Astagfirullah, karena Nabi mengajarkan, jika kita mendapat pujian kita ucapkan istighfar", ujarnya. Ustadz Syuhada juga mengingatkan bahwa Pak Natsir tidak pernah berharap diberi gelar pahlawan, dan orang-orang yang mengajukannya pun tidak bermaskud mengkultuskan Pak Natsir.
Pernyataan ini disampaikan untuk menanggapi keputusan pemerintah Indonesia yang baru saja menganugrahkan gelar “pahlawan” kepada Mohammad Natsir, pendiri dan Ketua pertama Dewan Da'wah.
Pertemuan Haflah 'Idul Fithri 1429 H/2008 M bertema "Rajut Ukhuwah, Selamatkan Indonesia dengan Da'wah" dihadiri keluarga besar DewanDa'wah dan tokoh-tokoh Islam. Hadir pula beberapa tokoh nasional, diantaranya Cholil Badawi, AM. Saefudin, Fuad Bawazir, Sahar L. Hasan dan Amin Djamaluddin.
Acara yang diadakan di aula Masjid al-Furqon, Kramat Raya 45, ini diisi oleh sambutan dari ketua umum Dewan Da'wah, KH. Syuhada Bahri dan Ceramah ketua MUI, KH. Cholil Ridwan.
Dalam sambutannya, Ustadz Syuhada Bahri, demikian beliau biasa disapa, mengatakan bahwa tema "Rajut Ukhuwah, Selamatkan Indonesia dengan Da'wah" diusung karena kini kondisi Indonesia sedang berada di jurang kehancuran. Ini terlihat dengan semakin banyaknya kemaksiatan yang terjadi dan musibah yang menimpa bangsa ini.
Dan satu-satunya yang dapat menyelamatkan Indonesia dari kehancuran ini menurt Ustadz Syuhada adalah gerakan da'wah. Masih menurutnya, sejarah sudah membuktikan bahwa faham-faham semacam sosialis, kapitalis termasuk pancasilais tidak mampu menyelamatkan ummat manusia dari kehancuran. "Satu-satunya yang pernah tercatat menjadikan manusia bejat menjadi bermartabat hanya da'wah", ujarnya.
Hanya saja, menurut Ustadz Syuhada, walaupun kini gerakan da'wah di Indonesia dapat dikatakan berada pada kondisi yang sangat bebas jika dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya, namun gerakan da'wah itu terlihat tidak menghasilkan apa-apa. Ini terbukti seiring dengan makin maraknya da'wah, makin marak pula kemaksiatan. Hal ini menurutnya menandakan bahwa, "Gerakan da'wah kita ada yang salah". Kesalahan gerakan da'wah itu menurut Ustadz Syhada karena kini da'wah dibelokan ke kanan dan ke kiri. Da'wah yang dibelokan ke kiri menjadi gerakan da'wah transendental, "Seolah-olah menurut gerakan ini semua masalah selesai dengan dzikir". Sementara gerakan da'wah yang dibengkokan ke kanan menghasilkan gerakan liberalisasi Islam.
Untuk mengantisipasi hal ini, Ustadz Syuhada menjelaskan, maka kini Dewan Da'wah memiliki dua program prioritas, yaitu pertama pengkaderan 1000 ulama dan 5000 da'i. "Ulama dan da'i yang ingin kita hasilkan adalah yang benar-benar menanamkan aqidah ke dalam hati ummat", ia menegaskan. Kedua program Dewan Da'wah Infaq Club. "Program ini bukan hanya bermaksud mengumpulkan dana, tapi juga membantu jaringan pendukung da'wah", jelasnya. Tujuannya menuurt Ustadz Syuhada agar semua orang merasa bertanggung jawab terhadap da'wah.
Sementara KH. Cholil Ridwan dalam ceramahnya menjelaskan mengenai Politik Masjid Rasulullah saw. Menurut salah seorang ketua MUI ini, dulu Nabi saw menjadikan masjid sebagai pusat segala kegiatan. Dari mulai shalat hingga latihan perang. "Bahkan di zaman Nabi, masjid pernah dijadikan pusat perawatan korban perang", ujarnya. Oleh karena itu Kiai Cholil mengharapkan, ke depan Dewan Da'wah khususnya dan Ummat Islam umumnya dapat menjadikan masjid sebagai pusat kegiatannya hingga fungsi masjid dapat dimaksimalkan dengan baik. [dwi/cha/www.hidayatullah.com]

0 Komentar