Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Muhammad Ajib : Da’i Cyber Penyusun Perpustakaan Digital

Seorang ustad yang bergelut dengan kitab kuning mampu membuat perpustakaan Islam digital. Koleksinya sekitar 60 ribu kitab berbahasa Arab, ratusan buku dan artikel berbahasa Indonesia, dan audio visual yang beraneka ragam.

Alhamdulillah, saat ini Jawa Tengah memiliki perpustakaan Islam digital. Karya monumental itu tidak lahir dari pakar teknologi informasi sekaliber Roy Suryo dengan peralatan lengkapnya, tapi justru dari sosok Muhammad Ajib, seorang ustadz yang sehari-hari bergelut dengan kitab kuning.

Uniknya lagi, karya tersebut digarap sendiri dan hanya dengan peralatan seadanya. Ajib (52), -demikian pria kelahiran Demak, Jawa Tengah ini biasa dipanggil- membuatnya di ruang berukuran 2x2 m2, yang menyatu dengan hiruk pikuknya pasar Genuk Semarang, Jawa Tengah

Ajib sudah merancang perpustakaan Islam digital tersebut sejak 2004. Berbagai data dan informasi ia kumpulkan melalui internet, lalu disederhanakan dalam sebuah program. Tidak tanggung-tanggung, data yang terkumpul saat ini sudah mencapai 1.000 Gigabyte.

Dijelaskan Ajib, selain berisi puluhan ribu kitab dan buku dalam berbagai tema, perpustakaan digital ini juga berisi koleksi film, foto, dan game yang mendidik untuk anak. Bagi mereka yang kesulitan mencari tema khotbah, Ajib juga mempersiapkannya. “Sudah lebih 1.000 tema khotbah yang terkumpul dalam perpustakaan digital ini,” jelas pria yang saat ini menjadi Ketua Yayasan Darul Hasanah Semarang.

Berawal dari Kegelisahan

Saat itu, Ajib sebagai santri yang mondok di Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, membutuhkan berbagai kitab. Sayangnya, karena keterbatasan dana menyebabkan ia tidak membeli kitab yang menurutnya cukup mahal. Bahkan kondisi itu berlangsung hingga ia lulus dari pesantren pada 1975.

Namun tekad untuk memiliki kitab-kitab yang harganya jutaan itu belum pupus. Setelah mengenal dunia internet secara autodidak tahun 2000, keinginan itu kembali menguat. Dalam pikiran Ajib, dengan menguasai internet, ia bisa memiliki kitab-kitab besar yang tersebar di berbagai situs di internet. Atas dasar itulah Ajib lalu menekuninya dengan sungguh-sungguh. Bahkan untuk keperluan tersebut, Ajib hampir setiap hari menjadi pelanggan warnet Kantor Pos Semarang.

Banyak hal yang diperoleh Ajib setelah bergaul dengan internet. Bermodalkan keberanian bertanya ke operator warnet dan melakukan percobaan, lambat laun ia semakin akrab dengan dunia internet. Trik-trik mencari kitab dan artikel pun dikuasainya, termasuk mengakali pencarian menggunakan tulisan Arab di warnet yang tidak dilengkapi keyboard huruf Arab sekalipun. Dunia chatting (ngobrol melalui internet) dan Yahoo Messenger (merupakan program pengirim pesan instan populer yang disediakan oleh Yahoo!) sudah menjadi santapan hariannya.

Selanjutnya, Ajib mulai berpikir untuk memanfaatkan hasil pencariannya di internet menjadi satu wadah yang dapat diakses oleh masyarakat. Dan wadah yang paling cocok untuk tujuan tersebut adalah perpustakaan.

Karena alasan biaya yang lebih murah, perpustakaan digital menjadi pilihannya. “Cukup dengan modal satu komputer seharga Rp 3 juta-an sudah bisa menampung 30 ribu buku,” jelas Ajib bersemangat.

Untuk mengawali pendirian perpustakaan digital itu, maka pada Mei 2007, Ajib dan keluarganya mendirikan Warung Internet (warnet) “MH” di lantai dua bangunan milik keluarganya di Pasar Genuk Semarang. Warnet “MH” inilah, menurut Ajib sebagai cikal bakal perpustakaan digital yang diwujudkannya Ramadhan tahun ini.

Berdakwah di Internet

Internet ibarat pisau bermata dua. Ia bisa menampilkan kebaikan, namun tidak sedikit pula keburukannya. Ajib menyadari situasi seperti itu. Karena itu, saat mengenalkan dunia internet kepada keluarganya, Ajib berpesan. “Internet itu ada jalan ke neraka dan surganya. Meskipun saya larang, toh kalian bisa sembunyi-sembunyi. Saya beritahu sekalian tentang internet ini,” pesan Ajib pada keluarganya.

Ajib menyadari, lingkungan memiliki peran yang sangat penting untuk mengawasi hal itu. Dengan tetap berada di lingkungan yang baik, siapa pun akan malu bila melakukan hal-hal yang tidak baik. Bila ini terus dilakukan, pada saatnya akan menjadi sikap hidup.

Dalam bergaul dengan teman chatting-nya pun Ajib selalu menyampaikan pesan-pesan dakwah, meskipun disadarinya sikap itu melawan arus. Ajib sering menjumpai dalam dunia chatting yang dibicarakan lebih banyak urusan pria dan wanita dengan kalimat yang nyrempet-nyrempet’. “Saya mencoba mengalihkan pembicaraan mereka pada persoalan pendidikan, persaudaraan dan dakwah, tapi hanya sedikit yang menanggapinya,” jelas Ajib.

Kepada para hacker (pengacau data) yang ia kenal pun mengajak untuk memberi sumbangsih untuk Islam. Di samping itu, upayanya menanamkan rasa tanggung jawab moral kepada hacker untuk mengacaukan situs-situs yang merusak masyarakat tidak henti-hentinya diserukan. “Walaupun mereka lebih pintar dari kita dan bisa membuatnya lagi, tapi setidaknya kita sudah melawan. Berdosa bila kita biarkan saja mereka,” kata Ajib menirukan kalimat yang disampaikannya pada para hacker tersebut.

Ajib termasuk orang yang tidak pelit berbagi ilmu. Ia sering menjadi mentor bagi kawan-kawan yang meminta bantuannya. Mulai dari remaja masjid hingga dosen.

Jadi Sutradara Plus

Bergaul dengan dunia teknologi informasi tidak menjadikan Ajib berpuas diri. Setelah sukses dengan perpustakaan digitalnya, Ajib melirik Handycam sebagai sarana dakwah. Menurut Ajib, belajar Islam itu lebih gampang bila divisualisasikan. “Kalau kita membaca buku sebanyak 30 lembar, akan setara dengan 5 menit yang divisualkan dan mudah dipahami,” ungkap Ajib.

Hanya saja, kenyataannya model pembelajaran seperti itu menurut Ajib masih langka di pasaran. Untuk itulah bapak lima anak ini mulai belajar membuat rekaman.

“Saya sudah buat vidio cara merawat jenazah sampai ke liang kubur, lengkap dengan tuntunan syariat Islam,” kata pengasuh di Pesantren Robbi Radhiah ini.

Untuk merealisasikan keinginan itu, Ajib mengaku harus bekerja sendiri. “Saya buat naskahnya, dan jadi sutradaranya, sekaligus merangkap kameramen dan editor,” seloroh Ajib. Yang penting, katanya, rekaman itu bisa menjadi sarana belajar yang efektif bagi masyarakat, sehingga bisa mengetahui cara men-talqin orang yang meninggal, mengkafani, memotong kain hingga menguburkannya.

Pria lulusan Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang ini mengaku belum maksimal menghasilkan CD pembelajaran bagi masyarakat. Pasalnya, ia masih sendiri dalam menyelesaikan produk-produk tersebut.

Berbagai produk yang dihasilkannya, kata Ajib dibiayai dari kantongnya sendiri. Untuk menopang programnya, suami Khodijah (45) ini tidak segan-segan memperkenalkan perpustakaan multi media ini dalam berbagai forum.

Jika ada yang tertarik, Ajib mempersilakan untuk mengcopy-nya, baik dengan biaya pengganti ongkos produksi atau gratis. Selebihnya, biaya mengembangkan program itu ditopang oleh honor-honornya saat mengisi berbagai pelatihan. *Masjidi/Suara Hidayatullah


Sumber : Dikutip dari majalah suara Hidayatullah, edisi Oktober 2007


Posting Komentar

0 Komentar