Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Spinnet anti Porno: Dakwah di Jalur TI


Pengusaha Muslim yang terjun dalam bisnis Teknologi Informasi (TI) belumlah banyak. Atet Sugiharto telah membuktikan bahwa bisnis TI bisa membawa untung dan juga sarana bagi berdakwah.

Suasana di sebuah bangunan berlantai dua di Jalan Salahutu Indah, Malang, Jawa Timur itu tampak sibuk. Beberapa karyawan, baik pria maupun wanita yang semuanya berjilbab itu tengah asyik dengan komputernya. Tempat itu adalah kantor pusat jaringan bisnis Internet Service Provider (ISP) bernama Spin Internet, atau disingkat Spin Net.

Spin Net adalah ISP yang dikenal karena layanan internetnya yang dapat memblokir situs-situs porno. Pemiliknya adalah Atet Sugiharto, pria kelahiran Sumenep, Madura, 34 tahun lalu.

Kini Atet telah menjadi sosok yang diperhitungkan dalam bisnis TI di Indonesia. Spin Net adalah salah satu usaha bisnisnya di bawah bendera PT Immedia Visi Solusi.

Spin adalah singkatan dari selalu produktif dan inovatif. “Spin juga berarti muter. Kita ingin selalu memutar pikiran untuk melakukan apa yang bisa kita lakukan, selalu berinovasi,” jelas Atet kepada Suara Hidayatullah.

Modal Nekad

Sebelumnya, Atet bekerja di sebuah ISP nasional selama sepuluh tahun. Merasa telah mampu membuka usaha sendiri, ia pun memutuskan keluar dari tempat kerjanya. Pengalaman kerja di ISP besar itu memberikannya pelajaran.

Menurutnya, umat Islam harus menjadi kiblat teknologi, bukan orang-orang non-Muslim. Namun, kenyataan berbicara lain, bisnis teknologi banyak dikuasai mereka. “Kita jangan hanya jadi kelinci percobaan,” ujar Atet.

Saat tahun 1997, ia mulai merintis usaha provider sendiri walau masih berstatus pegawai pada sebuah ISP. Waktu itu belum banyak provider yang beroperasi di Malang.

Melihat pasar dan target pengguna internet di Indonesia yang masih banyak dan mengalami peningkatan, namun kata Atet tidak diimbangi dengan edukasi yang benar, maka alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKI) Malang ini pun tertarik menekuni bisnis TI. Uniknya, karena keterbatasan modal Atet merintis Spin Net dengan cara frenchise dari ISP tempatnya bekerja.

Seiring dengan bergulirnya waktu, pada tahun 2003, Spin Net mendapat penghargaan sebagai The Best Sub-net Provider di Indonesia. “Semua itu kita dapatkan karena pertolongan Allah. Itu kebanggaan bagi kami. Minimal kami bisa melangkah dan orang-orang Muslim tidak dinomorduakan,” papar Atet penuh syukur.

Tahun 2004, Atet berpikir bahwa Spin Net tidak bisa terus-menerus menggantungkan diri dengan provider frenchise-nya. Ia merasa ada batu sandungan di sana, yaitu masalah akidah. Akhirnya, dengan dibantu lima orang karyawan, ia membuka kantor provider di tiga kota di Jawa Timur, yaitu Malang, Pasuruan dan Mojokerto.

Mulai Diperhitungkan

Kini Spin Net adalah satu-satuya provider internet milik Muslim yang dikelola oleh orang-orang Muslim. Dengan jumlah karyawan sebanyak 31 orang, Spin Net kini telah merambah ke lima kota di tanah air, antara lain Malang, Pasuruan, Mojokerto, Jakarta dan Surabaya. Jumlah pelanggannya mencapai 100 korporasi dengan omzet rata-rata Rp 200-an juta per bulan. Saat ini total aset Spin Net sekitar Rp 4 miliar.

Beberapa layanan Spin Net antara lain Spin Aksi Plus, adalah layanan internet khusus bagi universitas atau perguruan tinggi. Spin Broadband, layanan internet yang memberikan koneksi sharing bagi pengguna personal atau perumahan, Spin Virtual Private Network (VPN) yang memberikan koneksi antar perusahaan untuk wilayah Malang, Bangil, Ngoro, Mojokerto dan Pandaan. Ada juga Spin Aksi yang memberikan layanan internet bagi sekolah-sekolah di Indonesia. Semua layanan ini bisa digunakan untuk link nasional dan internasional dengan harga terjangkau.

Selain membidik korporasi sebagai pelanggan, Atet juga terjun dilevel perseorangan. Namun kata Atet, korporasilah yang memegang kekuatan finansial yang besar, bukan perseorangan. “Kita ingin menghemat resources (sumber daya). Ibaratnya, mengelola sedikit orang dengan income yang banyak,” ungkapnya.

Sistem berlangganan Spin Net sama dengan provider lainnya, sesuai dengan regulasi pemerintah. Spin Net menawarkan layanan langganan dengan model kuota. Harga yang paling murah sebesar Rp 99.000 per bulan dengan kuota 250 MB (megabyte). Untuk korporasi, Spin Net mempunyai paket-paket yang lebih variatif.

Namun bisnis ini bukan tanpa kendala. Model regulasi bisnis ISP di Indonesia yang masih belum beres, menjadi keprihatinan Atet. Kacaunya model regulasi hanya menguntungkan pemain-pemain besar saja. “Semuanya mau dimonopoli sendiri. Sepertinya serakah banget,” ungkap Atet.

Kendala lain yang dihadapinya yakni mahalnya harga infrastruktur interkoneksi yang menghubungkan provider dengan pelanggan. Harga yang paling murah sekitar Rp 800 ribu, sehingga ia harus patungan untuk mendapatkannya. Sayangnya, kata Atet, regulator (pemerintah) tidak mendukung dengan baik infrastruktur ini karena mereka juga bermain di situ.

Bisnis untuk Dakwah

Sebagai salah satu usaha bisnis, Spin Net tentu mempunyai target yang harus dicapai. Salah satunya ingin menjadi ISP yang syar’i. Atet juga berencana membuka warnet-warnet syariah dengan cara bermitra dengan pengusaha Muslim yang lain.

Oleh karena itu, Spin Net sering melakukan talk show dan pelatihan. “Ini lho kami punya produk teknologi yang insya Allah kita kelola secara syar’i, ayo dong dibantu! Dengan demikian, edukasi berjalan,” kata Atet.

Sejak Agustus 2007, Spin Net mulai terjun ke level perseorangan, karena ingin melakukan edukasi pada masyarakat. Apalagi saat ini internet sedang booming. Menurut Atet, jika tidak dilakukan edukasi akan timbuln masalah. Kalau internet sudah ada di rumah dan anak-anak sudah teracuni, susah untuk membendungnya. “Kita khawatir, kalau internet sudah jadi kebutuhan dan kita tidak bisa mengedukasi masyarakat, maka imbasnya sangat besar,” jelasnya.

Dengan Spin Net, Atet juga berharap para dai dan masyarakat Muslim yang punya akses informasi terhadap internet, berkumpul di situ. “Manfaatkanlah Spin Net semaksimal mungkin untuk umat dan dakwah!”

Atet juga dikenal sebagai pengusaha yang anti sogokan. Ia pernah dapat tawaran pemasangan internet di satu instansi pemerintahan Kota Malang, tapi mereka minta agar kwitansinya dikosongkan. Tentu saja Atet menolak. Akhirnya, proyek itu gagal. Meski demikian, ia tidak menyesal. Baginya, rezeki sudah ada yang mengatur. Karena itu, Atet terus memacu rekan-rekannya di Spin Net agar terus berjuang mencapai yang terbaik.

“Di sini tempat ibadah. Dengan bekerja, insya Allah kita menjemput rezeki. Alhamdulillah, bisa berjalan seiring,” kata suami Dian Candra Safitri ini.

Hingga kini, di kantor Spin Net selalu ada pengajian setiap minggunya. Setiap hari seluruh karyawan setor minimal dua ayat terjemahan al-Qur’an secara berurutan menurut absensi. Yang tidak setor sekali saja, sama dengan alpa. “Tujuannya, minimal kita selalu baca al-Qur’an, tanpa terlewatkan,” kata Atet.

Setiap usai shalat Dhuhur berjamaah, dibacakan terjemahan Hadits. Spin Net juga memberlakukan jam khusus untuk shalat Dhuha dari pukul 08.30 hingga 09.30 pagi. Keseimbangan antara ritme kerja dan ibadah yang dirangkai dalam dakwah adalah salah satu kunci kesuksesan Atet Sugiharto. *Chairul Akhmad/Suara Hidayatullah


Sumber: Majalah Suara Hidayatullah, Februari 2008

Posting Komentar

1 Komentar

Yati Basri mengatakan…
Amin.... semoga umat islam semakin maju