Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Kartini dan Islam

*Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan
arti surat pertama dan induk al-Quran yang isinya begitu indah
menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah.
Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang
keras penerjemahan dan penafsiran al-Quran dalam bahasa Jawa? bukankah
al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"*
Begitu komentar Kartini ketika bertanya kepada gurunya, Kyai Sholeh Darat.

Pemikiran Kartini berubah, yang tadinya menganggap Barat (Eropa) sebagai kiblat,
lalu menjadikan Islam sebagai landasan dalam pemikirannya. Hal ini setidaknya
terlihat dari surat Kartini kepada Abendanon, 27 Oktober 1902 yang isinya
berbunyi,* "Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa
itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami,
apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu
menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat
banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?"*

Demikian juga dalam surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902 yang isinya,
*"Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain
memandang agama Islam patut disukai."*

Setelah mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya dan mengkaji isi
al-Quran,Kartini terinspirasi dengan firman Allah SWT (yang artinya),
"*…mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)*
(QS al-Baqarah [2]:257)," yang diistilahkan Armyn Pane dalam tulisannya dengan,
"Habis GelapTerbitlah Terang".

Kartini memiliki cita-cita yang luhur, yaitu mengubah masyarakat, khususnya
kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan, juga untuk melepaskan
diri dari hukum yang tidak adil dan paham-paham materialisme, untuk kemudian
beralih ke keadaan ketika kaum perempuan mendapatkan akses untuk mendapatkan
hak dan dalam menjalankan kewajibannya. Ini sebagaimana terlihat dalam tulisan
Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902, yang isinya,
*"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan,
bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi
saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan
pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap
melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama."*

Beberapa surat Kartini di atas setidaknya menunjukan bahwa Kartini berjuang
dalam kerangka mengubah keadaan perempuan pada saat itu agar dapat mendapatkan
haknya, di antaranya menuntut pendidikan dan pengajaran untuk kaum perempuan
yang juga merupakan kewajibannya dalam Islam, bukan berjuang menuntut
kesetaraan (emansipasi) antara perempuan dan pria sebagaimana yang
diklaim oleh para pengusung ide feminis. *Wallahu a'lam bi muradih*

*[Iwan Setiawan; *Mahasiswa UIN Sunan Gunung Jati Bandung*]*

--
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar;
merekalah orang-orang yang beruntung." (TQS: Surat ALI IMRAN, 104)

Posting Komentar

0 Komentar