Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Menghafal Ilmu dan Membangun Skills

Oleh: Muhaimin Iqbal


Menghafal ilmu adalah karakter yang diberikan Allah kepada umat ini yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya maupun umat lain yang hidup bersama kita di jaman ini. Kitab Al-Qur’an dengan bacaannya yang benar hanya bisa sampai ke kita saat ini karena di sepanjang jaman selalu ada orang yang menghafalkannya, demikian pula dengan puluhan ribu hadits terjaga kesahihannya juga karena ada yang menghafalnya. Bahkan menghafal itu kini terbukti cara yang paling efektif untuk menguasai ilmu dan ketrampilan (skills).

Sel-sel syaraf dalam otak kita itu seperti belantara yang tidak terjamah, ketika kita menghafal sesuatu – maka terbentuklah jalan setapak yang menghubungkan sel-sel syaraf tersebut. Dalam ilmu syaraf – jalan setapak ini disebut Neural Pathways – seperti jalan setapak yang ada di hutan belantara.

Ketika kita menghafal ilmu itu setengah-setengah, maka jalan setapak itu dengan mudah kembali tertutup dengan belukar hutan belantara – hilang tidak berbekas. Itulah mengapa orang-orang yang bergelar Doktor di bidangnya sekalipun, tidak selalu bisa menyelesaikan masalah yang ada di depannya – meskipun masalah itu adalah masalah bidangnya.

Ketika suatu ilmu itu terus menerus kita hafalkan dengan sangat kuat, maka jalan setapak itu menjadi seperti jalan yang dicor atau diaspal – tetap ada selamanya dan akan mudah ditemukan kapan saja dibutuhkan.

Contoh yang gampang adalah Anda mungkin pernah menghafal Surat Yaasiin waktu sekolah dahulu, masih hafalkah Anda sekarang ? kalau masih – maka hafalan Anda telah menjadi jalan yang dicor tersebut di sel-sel syaraf Anda. Kalau Anda menghafalnya setengah-setengah, maka jalan itu telah tertutup belukar.

Bagaimana dengan surat Al-Faatihah ? dalam mimpi-pun Anda bisa membaca surat ini sampai selesai, karena Al-Faatihah telah menjadi jalan tol di dalam belantara sel-sel syaraf otak Anda.

Semakin banyak neural pathways atau jalan-jalan setapak di otak kita, semakin banyak ilmu yang tertanam di dalam otak kita. Seperti juga di dalam hutan belantara, ketika banyak jalan-jalan setapak di dalamnya – maka mudahlah manusia berlalu lalang dari ujung hutan yang satu ke hutan yang lain.

Orang yang memiliki banyak ilmu yang dihafal, otaknya tersusun rapi – dan mudah untuk menjawab setiap persoalan yang ada. Banyaknya jalan yang terbangun secara permanen ini juga membuat orang yang memilikinya tidak bisa lupa dengan ilmunya. Itulah mengapa ulama-ulama dahulu tidak ada yang pikun, juga para penghafal Al-Qur’an yang sesungguhnya inysaAllah tidak akan menjadi pikun.

Sampai disini ilmu itu masih berputar di dalam otak, yang berupa belantara maupun yang dipenuhi jalan setapak – masih belum berefek pada lingkungannya – ketika ilmu itu belum diamalkan. Orang yang pinter ataupun orang yang bodoh tidak ada bedanya ketika mereka diam, maka ilmu itu menuntut pengamalan.

Yang dijanjikan oleh Allah akan menjadi khalifah yang berkuasa di muka bumi –pun tidak cukup orang yang berilmu, tetapi orang yang beriman dan ber-amal shalih (QS 24:55). Lantas apakah kaitan antara amal ini dengan ilmu yang dalam bahasa ilmu syaraf merupakan kumpulan jalan setapak – neural pathways – yang terbangun di otak kita tersebut diatas ?

Amal shaleh kita adalah Skills Pathways – yaitu jalan setapak yang menghubungkan antara apa yang ada di dalam otak kita dengan lingkungan atau alam sekitarnya.

Misalnya bila Anda didorong oleh teman Anda masuk ke dalam kolam, apa yang akan terjadi ? Bila Anda orang yang tidak bisa berenang – Anda akan glagepan panik dan teriak minta tolong. Tetapi bila Anda memiliki skills untuk berenang, maka reaksi spontan Anda adalah berenang.

Skills seperti berenang, naik sepeda, mengemudikan mobil dlsb. adalah skills yang sudah terbangun jalan permanen antara otak kita dengan lingkungannya. Sekali kita bisa naik sepeda, seterusnya bisa naik sepeda – mau diganti seperti apapun model sepedanya.

Bagaimana kita bisa naik sepeda dahulu ? sedikit teori dan kemudian banyak-banyak berlatih. Maka prinsip yang sama bisa kita gunakan untuk membangun skills apapun, intinya adalah membangun dua jalan setapak yaitu neural pathways yang ada di dalam otak kita – dan skills pathways yang menyambungkan antara yang ada di dalam otak dengan lingkungan yang relevan.

Atau menyambungkan antara kegiatan kita  menghafal dalam otak sampai terbangun jalan setapak yang permanen, dengan menghafalkan tindakan atau langkah-langkah yang diperlukan untuk merespon atau menggerakkan apa-apa yang terkait yang ada di lingkungan kita.

Jauh sebelum manusia modern menemukan teori untuk menghafal pengetahuan dan skills ini, ulama-ulama dahulu sudah melakukannya. Mereka bukan hanya hafal Al-Qur’an dan puluhan ribu hadits – bahkan banyak ilmu-ilmu keseharian-pun dihafal. Saya pernah menjumpai ilmu pertanian yang disusun dengan honsep hafalan.

Pentingnya menghafal  ini kemudian ditulis dalam sebuah kitab tersendiri oleh Imam Ibnul Jauzi yang berjudul al-Hatstsu ‘Ala Hifdzi al-‘Ilmi  atau anjuran untuk menghafal ilmu.

Bila isi kitab ini kita baca dan terapkan sekarang – untuk menghafal ilmu yang kemudian melahirkan skills atau ketrampilan, maka insyaAllah kita akan bisa menjawab tantangan kebutuhan skilled labor atau tenaga kerja terlatih yang amat sangat banyak di negeri ini  – tambahan 58 juta orang lagi  sampai tahun 2030 nanti.

Mengapa tantangan ini tidak terjawab oleh system pendidikan dan pelatihan yang ada sekarang ? karena mereka meninggalkan anjuran menghafal ilmu itu. Maka ilmu-pun hanya pernah singgah sebentar diotaknya, kemudian hilang tidak berbekas. Ketika ilmu hilang, tidak mungkinlah dia akan memiliki skills – karena jalan yang menghubungkannya ke otak tidak ada !

Teknik menghafal ilmu dengan membangun neural pathways yang akan menghubungkannya dengan  skills pathways inilah yang insyaallah kita akan gunakan untuk membangun system di project  SkillsWhiz – Skills artinya kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik, dan Whiz artinya orang yang sangat cerdas di bidangnya.


Melalu system semacam inilah nantinya insyaAllah skills apapun yang dibutuhkan umat ini bisa dilipat gandakan kwantitasnya dan tingkatkan kwalitasnya – mengikuti anjuran ulama-ulama dahulu, yaitu melalui cara menghafal ! InsyaAllah.
Sumber: http://geraidinar.com/87-gd-articles/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/1705-menghafal-ilmu-dan-membangun-skills

Posting Komentar

0 Komentar