Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Tawadhu Para Ulama Terhadap Guru

 
Ilmu amat tinggi kedudukannya di dalam Islam, demikian pula mereka yang mengajarkan dan menebarkan ilmu, sehingga Islam juga menganjurkan agar umatnya memberikan pengormatan kepada para ulama

Diriwayatkan oleh Imam At Thabrani, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (SAW) bersabda: “Pelajarilah ilmu, pelajarilah ilmu dengan ketenangan dan sikap hormat serta tawadhu’lah kepada orang yang mengajarimu”.

Ilmu tidak akan bisa diperoleh secara sempurna kecuali dengan diiringi sifat tawadhu’ si murid terhadap gurunya, karena keridhaan guru terhadap murid akan membantu proses penyerapan ilmu. Sehingga Imam Al Munawi dalam Faidh Al Qadir (3/253) menyatakan bahwa tawadhu’ murid terhadap guru merupakan cermin ketinggian kemulyaan si murid. Tunduknya kepada guru justru merupakan izzah dan kehormatan baginya.

Al Munawi memberikan beberapa contoh dalam masalah ini dari perilaku para sahabat, yang memperoleh pendidikan langsung dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang layak untuk dijadikan suri tauladan. Ibnu Abbas, sahabat mulia yang amat dekat dengan Rasulullah mempersilahkan Zain Bin Tsabit, untuk naik di atas kendaraannya, sedangkan ia sendiri yang menuntunnya. “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ulama kami”, ucap Ibnu Abbas. Zaid Bin Tsabit sendiri mencium tangan Ibnu Abbas. “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ahli bait Rasulullah”, balas Zaid. (Diriwayatkan At Thabarani, disahihkan oleh Al Iraqi)
Lalu Al Munawi menyebutkan bagaimana para ulama menghormati guru-guru mereka.
As Sulaimi sendiri menceritakan pengormatan orang-orang terdahulu terhadap ulama mereka. Pada zamannya, orang-orang tidak akan bertanya sesuatu kepada Said bin Musayyab, faqih tabi’in, kecuali meminta izin terlebih dahulu, seperti layaknya seseorang yang sedang berhadapan dengan khalifah.
Pengormatan Imam As Syaf’i kepada guru beliau Imam Malik, juga bisa kita ambil pelajaran. Masih munukil Ats Sulaimi, Al Munawi menyebutkan, “Di hadapan Malik aku membuka lembaran-lembaran dengan sangat hati-hati, agar jatuhnya lembaran kertas itu tidak terdengar”. Rabi’, murid Imam As Syafi’i juga tidak ingin gurunya itu melihatnya ketika sedang minum.

Tengoklah pula bagaimana rasa hormat Imam Abu Hanifah kepada guru beliau. “Aku tidak pernah shalat setelah guruku Hammad, wafat, kecuali aku memintakan ampun untuknya dan untuk orang tuaku”. Rupanya perbuatan ini “menurun” juga kepada Abu Yusuf. Murid Abu Hanifah, ia selalu mendoakan Abu Hanifah sebelum mendoakan kedua orang tuanya sendiri. (Manaqib Imam Abu Hanifah, Al Muwaffaq Al Khawarizmi, 2/7)

Pernah, Abdullah, putra dari Imam Ahmad bertanya kepada ayahnya. “Syafi’i itu seperti apa orangnya, hingga aku melihat ayah benyak mendoakannya?”. “Wahai anakku, Syafi’i seperti matahai bagi dunia..”, jawab Ahmad bin Hanbal. Sebagaimana disebutkan beberapa riwayat, bahwa selama tiga puluh tahun Imam Ahmad mendoakan dan memintakan ampunan untuk guru beliau Imam As Syafi’i. (Tarikh Al Baghdadi, 2/62,66)

Sikap hormat dan tawadhu’mereka kapada para guru amat tinggi, bahkan dalam berdoa sendiri mereka mendahulukan para guru, baru kemudian orang tua. Kenapa dimikian? Imam Al Ghazali menjelaskannya. ”Hak para guru lebih besar daripada hak orang tua. Orang tua merupakan sebab kehadiran manusia di dunia fana, sedangkan guru bermanfaat bagi manusia untuk mengarungi kehidupan kekal. Kalaulah bukan karena jerih payah guru, maka usaha orang tua akan sia-sia dan tid bermanfaat. Karena para guru yang memberikan manusia bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal”. (Ihya’ Ulumuddin, 1/55).

Ya Allah ampunilah guru-guru kami dan sayangilah mereka…
[Disadur dari ta’liqat [komentar-komentar] Al Muhaddits Abdul Fattah Abu Ghuddah, di Risalah Al Mustarsyidin, Imam Al Muhasibi, cet Dar As Salam, Kairo, Th. 2000]

Posting Komentar

0 Komentar